Selasa, 01 Juni 2010


KARTINI
( emansipasi )

Wanita wanita kini mengurai kembali benang yang telah kupintal, mereka hanya
merayakan hari kelahiranku tapi itu semua hanya mengecilkan arti perjuangaku selama
ini. Wanita wanita kini telah maju kebelakang, kita belajar sejarah, bahwa manusia itu
unik, keunikan manusia itu : dia belajar sejarah tapi tidak pernah belajar dari sejarah.

Aku tidak mengerti wanita sekarang, mereka keluar rumah tanpa pamit pada suami,
apakah pantas sebagai manusia beragama, dalam islam suami harus dihormati, dalam
Kristen suami istri harus saling menghargai dan mengasihi, tapi apabila tidak ada didalam
keduanya, apakah masih bisa disebut manusia beragama.

Aku punya dendam ketika para pegawai negeri tidak bisa berlaku adil, aku dendam ketika
beribu ribu ibu menangis karena kehilangan anak, tidak bisa menyiapkan sarapan pagi
untuk suaminya, bukankah Indonesia kaya akan minyak tapi kenapa harus diexpor keluar
negeri, mereka sama dengan adipati adipati bermuka dua dijamanku.

Lebih baik jangan pernah memperingati hari kelahiranku apabila emansipasi lebih
condong liberalisme atau feminisme.

Jadikanlah rumahmu istanamu, kembalilah ke rumahmu karena bagunan materi
betapapun menjulang tinggi tidak akan ada artinya jika dibangun di atas rumah tangga
yang rapuh, ingatlah, kehancuran rumah tanggamu berarti kehancuran masyarakatmu,
negaramu dan duniamu

Tinta sejarah belum lagi kering menulis namanya, tapi wanita wanita negeri ini sudah
terbata bata membaca cita citanya

Aku mohon agar anak anak bangsa dapat memperoleh pendidikan terutama wanita,
bukannya sekali sekali karena kami menginginkan anak anak perempuan itu menjadi
saingan laki laki dalam perjuangan hidupnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar