( Esensi ) Ibadah dalam Bekerja
Dalam diri setiap pribadi muslim telah meyakini bahwasannya niat atau dorongan untuk menetapkan cita-cita, merupakan ciri bahwa dia itu ada dan dia itu hidup. Mereka menyadari betapa besarnya kasih sayang Allah kepada dirinya. Itulah sebabnya Allah menanamkan kepada diri kita untuk tetap memiliki niat yang baik sebagai salah satu latihan untuk menumbuhkan cara berfikir yang positif pada setiap diri pribadi seorang muslim. Tentang niat ini Rosulullah bersabda, “Allah Azza wa Jalla berfirman (kepada malaikat pencatat amal), ‘Bila hamba-Ku berniat melakukan perbuatan jelek, janganlah kalian catat dulu. Jika dia telah mengerjakannya, barulah kalian tulis sebagai satu kejelekan. Bila hamba-Ku berniat melakukan perbuatan baik, tapi tidak jadi melaksanakannya, catatlah sebagai suatu kebaikan. Jika dia mengamalkannya, catatlah kebaikan itu sepuluh kali lipat.” (HR Abu Hurairah)
Subhanallah, begitu sayangnya Allah kepada kita yang selalu mengabaikan perintah-Nya dan itulah bukti kebesaran Allah SWT. Disinilah nanti akan dilihat bagaimana kaitannya antara tugas manusia dan bekerja.
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sekiranya di antara kamu membawa tali dan pergi ke bukit untuk mencari kayu. Kemudian dipikul ke pasar untuk dijual dan dengan itu dapat mencukupi sedikit dari kebutuhannya. Maka yang demikian itu lebih baik daripada meminta-minta pada orang-orang, baik mereka memberi atau menolaknya.” (HR Bukhari)
Dengan bekerja pada dasarnya kita telah melaksanakan tugas mulia sebagai manusia, yaitu beribadah kepada Allah yang Maha Kuasa. Karena bekerja pada hakekatnya adalah ibadah dan merupakan tugas kita dalam menjalani hidup ini. Bekerja lebih mulia daripada meminta-minta dan mengiba-iba. Bahkan Rosulullah pun sangat menyukai orang yang bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Pernah ada seseorang lelaki yang mengadu kepada Nabi Muhammad SAW karena kefakirannya. Mendengar keluhan orang itu. Rosulullah memberikan dua dirham kepadanya seraya berkata: “Apakah kamu memiliki sesuatu?” “Tidak, Wahai Rosulullah,” jawab lelaki itu. Kemudian Rosulullah memberinya dua dirham kepada lelaki tadi sambil bersabda lagi: “Terimalah uang ini. Belilah makanan yang dibutuhkan olehmu dengan sebagian uang ini dan sisanya belilah sebuah kapak. Carilah kayu bakar dan juallah, itu lebih baik bagimu daripada mengemis.” Setelah lima belas hari, lelaki itu datang menghadap Rosulullah dan berkata: “Wahai Rosulullah, Allah telah memberkahi pada apa yang telah Rosul perintahkan kepadaku, kini saya telah berhasil mengumpulkan uang sebanyak sepuluh dirham. Yang lima dirham saya gunakan untuk membeli makanan buat keluargaku, sedangkan yang lima dirham lagi saya gunakan untuk membeli pakaian anak istriku.” Mendengar perkataan lelaki itu, maka Rosulullah bersabda: “Ini lebih baik bagimu daripada meminta atau mengemis kepada orang lain.”
Bekerja itu memiliki esensi ibadah. Orang yang bekerja di jalan yang halal, Insya Allah akan mendapatkan pahala dan pengampunan dosa dari Tuhannya. Sang suami yang bekerja untuk menafkahi istri dan anaknya sangat mulia di hadapan Allah dan hambaNya. Kelelahan setelah bekerja seharian seakan hilang melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah istri dan anaknya. Dengan bekerja di jalan yang halal kita dapat merasakan kepuasan karena pahala dari Allah telah dalam genggaman. Sementara dosa-dosa kita luruh seiring letih seusai bekerja keras dengan tangan dan pikiran seharian.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar