







Waktu
by. Kahlil Gibran
Dan jika engkau bertanya, bagaimanakah tentang Waktu?…. Kau ingin mengukur waktu yang tanpa ukuran dan tak terukur. Engkau akan menyesuaikan tingkah lakumu dan bahkan mengarahkan perjalanan jiwamu menurut jam dan musim.
Suatu ketika kau ingin membuat sebatang sungai, diatas bantarannya kau akan duduk dan menyaksikan alirannya. Namun keabadian di dalam dirimu adalah kesadaran akan kehidupan nan abadi, Dan mengetahui bahwa kemarin hanyalah kenangan hari ini dan esok hari adalah harapan. Dan bahwa yang bernyanyi dan merenung dari dalam jiwa, senantiasa menghuni ruang semesta yang menaburkan bintang di angkasa. Setiap di antara kalian yang tidak merasa bahwa daya mencintainya tiada batasnya?
Dan siapa pula yang tidak merasa bahwa cinta sejati, walau tiada batas, tercakup di dalam inti dirinya, dan tiada bergerak dari pikiran cinta ke pikiran cinta, pun bukan dari tindakan kasih ke tindakan kasih yang lain? Dan bukanlah sang waktu sebagaimana cinta, tiada terbagi dan tiada kenal ruang?
Tapi jika di dalam pikiranmu haru mengukur waktu ke dalam musim, biarkanlah tiap musim merangkum semua musim yang lain,Dan biarkanlah hari ini memeluk masa silam dengan kenangan dan masa depan dengan kerinduan.
Cinta dan Kesetiaan
Seorang wanita bertanya pada seorang pria tentang cinta dan harapan
Wanita berkata ingin menjadi bunga terindah di dunia
Dan pria berkata ingin menjadi matahari.
Wanita tidak mengerti kenapa pria ingin jadi matahari,
bukan kupu kupu atau kumbang ya
ng bisa terus menemani bunga…
Wanita berkata ingin menjadi rembulan
dan pria berkata ingin tetap menjadi matahari.
Wanita semakin bingung karena matahari dan bulan tidak bisa bertemu,
tetapi pria ingin tetap jadi matahari….
Wanita berkata ingin menjadi Phoenix…
yang bisa terbang ke langit jauh di atas matahari,
dan pria berkata ia akan selalu menjadi matahari….
Wanita tersenyum pahit dan kecewa.
Wanita sudah berubah tiga kali…
namun pria tetap keras kepala ingin jadi matahari,
tanpa mau ikut berubah bersama wanita.
Maka wanita pun pergi dan tak pernah lagi kembali
tanpa pernah tahu alasan kenapa pria tetap menjadi matahari….
Pria merenung sendiri dan menatap matahari
Saat wanita jadi bunga, pria ingin menjadi matahari
agar bunga dapat terus hidup
Matahari akan memberikan semua sinarnya untuk bunga
agar ia tumbuh, berkembang.. .
dan terus hidup sebagai bunga yang cantik.
Walau matahari tahu ia hanya dapat memandang dari jauh
dan pada akhirnya kupu kupu yang akan menari bersama bunga.
Ini disebut KASIH….. yaitu memberi tanpa pamrih
Saat wanita jadi bulan,
pria tetap menjadi matahari….
agar bulan dapat terus bersinar indah dan dikagumi.
Cahaya bulan yang indah hanyalah pantulan cahaya matahari,
tetapi saat semua makhluk mengagumi bulan,
siapakah yang ingat kepada matahari?
Matahari rela memberikan cahayanya untuk bulan
walaupun ia sendiri tidak bisa menikmati cahaya bulan…
dilupakan jasanya dan kehilangan kemuliaannya
sebagai pemberi cahaya
agar bulan mendapatkan kemuliaan tersebut….
Ini disebut dengan PENGORBANAN
menyakitkan namun sangat layak untuk cinta.
Saat wanita jadi phoenix yang dapat terbang tinggi,
jauh ke langit bahkan di atas matahari…
Pria tetap selalu jadi matahari
agar phoenix bebas untuk pergi kapan pun ia mau
dan matahari tidak akan mencegahnya
Matahari rela melepaskan phoenix untuk pergi jauh,
namun matahari akan selalu menyimpan
cinta yang membara di dalam hatinya hanya untuk phoenix
Matahari selalu ada untuk phoenix kapan pun ia mau kembali
walau phoenix tidak selalu ada untuk matahari
Tidak akan ada makhluk lain selain phoenix
yang bisa masuk ke dalam matahari dan mendapatkan cintanya….
Ini disebut dengan KESETIAAN
walaupun ditinggal pergi dan dikhianati,
namun tetap menanti dan mau memaafkan
( Esensi ) Ibadah dalam Bekerja
Dalam diri setiap pribadi muslim telah meyakini bahwasannya niat atau dorongan untuk menetapkan cita-cita, merupakan ciri bahwa dia itu ada dan dia itu hidup. Mereka menyadari betapa besarnya kasih sayang Allah kepada dirinya. Itulah sebabnya Allah menanamkan kepada diri kita untuk tetap memiliki niat yang baik sebagai salah satu latihan untuk menumbuhkan cara berfikir yang positif pada setiap diri pribadi seorang muslim. Tentang niat ini Rosulullah bersabda, “Allah Azza wa Jalla berfirman (kepada malaikat pencatat amal), ‘Bila hamba-Ku berniat melakukan perbuatan jelek, janganlah kalian catat dulu. Jika dia telah mengerjakannya, barulah kalian tulis sebagai satu kejelekan. Bila hamba-Ku berniat melakukan perbuatan baik, tapi tidak jadi melaksanakannya, catatlah sebagai suatu kebaikan. Jika dia mengamalkannya, catatlah kebaikan itu sepuluh kali lipat.” (HR Abu Hurairah)
Subhanallah, begitu sayangnya Allah kepada kita yang selalu mengabaikan perintah-Nya dan itulah bukti kebesaran Allah SWT. Disinilah nanti akan dilihat bagaimana kaitannya antara tugas manusia dan bekerja.
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sekiranya di antara kamu membawa tali dan pergi ke bukit untuk mencari kayu. Kemudian dipikul ke pasar untuk dijual dan dengan itu dapat mencukupi sedikit dari kebutuhannya. Maka yang demikian itu lebih baik daripada meminta-minta pada orang-orang, baik mereka memberi atau menolaknya.” (HR Bukhari)
Dengan bekerja pada dasarnya kita telah melaksanakan tugas mulia sebagai manusia, yaitu beribadah kepada Allah yang Maha Kuasa. Karena bekerja pada hakekatnya adalah ibadah dan merupakan tugas kita dalam menjalani hidup ini. Bekerja lebih mulia daripada meminta-minta dan mengiba-iba. Bahkan Rosulullah pun sangat menyukai orang yang bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Pernah ada seseorang lelaki yang mengadu kepada Nabi Muhammad SAW karena kefakirannya. Mendengar keluhan orang itu. Rosulullah memberikan dua dirham kepadanya seraya berkata: “Apakah kamu memiliki sesuatu?” “Tidak, Wahai Rosulullah,” jawab lelaki itu. Kemudian Rosulullah memberinya dua dirham kepada lelaki tadi sambil bersabda lagi: “Terimalah uang ini. Belilah makanan yang dibutuhkan olehmu dengan sebagian uang ini dan sisanya belilah sebuah kapak. Carilah kayu bakar dan juallah, itu lebih baik bagimu daripada mengemis.” Setelah lima belas hari, lelaki itu datang menghadap Rosulullah dan berkata: “Wahai Rosulullah, Allah telah memberkahi pada apa yang telah Rosul perintahkan kepadaku, kini saya telah berhasil mengumpulkan uang sebanyak sepuluh dirham. Yang lima dirham saya gunakan untuk membeli makanan buat keluargaku, sedangkan yang lima dirham lagi saya gunakan untuk membeli pakaian anak istriku.” Mendengar perkataan lelaki itu, maka Rosulullah bersabda: “Ini lebih baik bagimu daripada meminta atau mengemis kepada orang lain.”
Bekerja itu memiliki esensi ibadah. Orang yang bekerja di jalan yang halal, Insya Allah akan mendapatkan pahala dan pengampunan dosa dari Tuhannya. Sang suami yang bekerja untuk menafkahi istri dan anaknya sangat mulia di hadapan Allah dan hambaNya. Kelelahan setelah bekerja seharian seakan hilang melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah istri dan anaknya. Dengan bekerja di jalan yang halal kita dapat merasakan kepuasan karena pahala dari Allah telah dalam genggaman. Sementara dosa-dosa kita luruh seiring letih seusai bekerja keras dengan tangan dan pikiran seharian.