Jumat, 25 Juni 2010

Lomba Mading 2010 Antar SMA se-Kota Tegal






Mading yang kemarin dapet juara 1 Lomba Mading antar SMA Se-Kota Tegal 2010





Senin, 21 Juni 2010

Puisi


Waktu

by. Kahlil Gibran


Dan jika engkau bertanya, bagaimanakah tentang Waktu?…. Kau ingin mengukur waktu yang tanpa ukuran dan tak terukur. Engkau akan menyesuaikan tingkah lakumu dan bahkan mengarahkan perjalanan jiwamu menurut jam dan musim.

Suatu ketika kau ingin membuat sebatang sungai, diatas bantarannya kau akan duduk dan menyaksikan alirannya. Namun keabadian di dalam dirimu adalah kesadaran akan kehidupan nan abadi, Dan mengetahui bahwa kemarin hanyalah kenangan hari ini dan esok hari adalah harapan. Dan bahwa yang bernyanyi dan merenung dari dalam jiwa, senantiasa menghuni ruang semesta yang menaburkan bintang di angkasa. Setiap di antara kalian yang tidak merasa bahwa daya mencintainya tiada batasnya?

Dan siapa pula yang tidak merasa bahwa cinta sejati, walau tiada batas, tercakup di dalam inti dirinya, dan tiada bergerak dari pikiran cinta ke pikiran cinta, pun bukan dari tindakan kasih ke tindakan kasih yang lain? Dan bukanlah sang waktu sebagaimana cinta, tiada terbagi dan tiada kenal ruang?

Tapi jika di dalam pikiranmu haru mengukur waktu ke dalam musim, biarkanlah tiap musim merangkum semua musim yang lain,Dan biarkanlah hari ini memeluk masa silam dengan kenangan dan masa depan dengan kerinduan.



Cinta dan Kesetiaan


Seorang wanita bertanya pada seorang pria tentang cinta dan harapan

Wanita berkata ingin menjadi bunga terindah di dunia
Dan pria berkata ingin menjadi matahari.
Wanita tidak mengerti kenapa pria i
ngin jadi matahari,
bukan kupu kupu atau kumbang ya

ng bisa terus menemani bunga…

Wanita berkata ingin menjadi rembulan
dan pria berkata ingin tetap menjadi matahari.

Wanita semakin bingung karena matahari dan bulan tidak bisa bertemu,
tetapi pria ingin tetap jadi matahari….

Wanita berkata ingin menjadi Phoenix…
yang bisa terbang ke langit jauh di atas matahari,
dan pria berkata ia akan selalu menjadi matahari….

Wanita tersenyum pahit dan kecewa.
Wanita sudah berubah tiga kali…
namun pria tetap keras kepala ingin jadi matahari,
tanpa mau ikut berubah bersama wanita.

Maka wanita pun pergi dan tak pernah lagi kembali
tanpa pernah tahu alasan kenapa pria tetap menjadi matahari….

Pria merenung sendiri dan menatap matahari
Saat wanita jadi bunga, pria ingin menjadi matahari
agar bunga dapat terus hidup
Matahari akan memberikan semua sinarnya untuk bunga
agar ia tumbuh, berkembang.. .
dan terus hidup sebagai bunga yang cantik.
Walau matahari tahu ia hanya dapat memandang dari jauh
dan pada akhirnya kupu kupu yang akan menari bersama bunga.
Ini disebut KASIH….. yaitu memberi tanpa pamrih

Saat wanita jadi bulan,
pria tetap menjadi matahari….
agar bulan dapat terus bersinar indah dan dikagumi.
Cahaya bulan yang indah hanyalah pantulan cahaya matahari,
tetapi saat semua makhluk mengagumi bulan,
siapakah yang ingat kepada matahari?

Matahari rela memberikan cahayanya untuk bulan
walaupun ia sendiri tidak bisa menikmati cahaya bulan…
dilupakan jasanya dan kehilangan kemuliaannya
sebagai pemberi cahaya
agar bulan mendapatkan kemuliaan tersebut….
Ini disebut dengan PENGORBANAN

menyakitkan namun sangat layak untuk cinta.

Saat wanita jadi phoenix yang dapat terbang tinggi,
jauh ke langit bahkan di atas matahari…
Pria tetap selalu jadi matahari
agar phoenix bebas untuk pergi kapan pun ia mau
dan matahari tidak akan mencegahnya

Matahari rela melepaskan phoenix untuk pergi jauh,
namun matahari akan selalu menyimpan
cinta yang membara di dalam hatinya hanya untuk phoenix
Matahari selalu ada untuk phoenix kapan pun ia mau kembali
walau phoenix tidak selalu ada untuk matahari

Tidak akan ada makhluk lain selain phoenix
yang bisa masuk ke dalam matahari dan mendapatkan cintanya….

Ini disebut dengan KESETIAAN
walaupun ditinggal pergi dan dikhianati,
namun tetap menanti dan mau memaafkan

Untuk para wanita…..
Siapakah Matahari yang ada di dalam kehidupanmu?
Bila engkau sudah menemukan dan melihat Matahari dalam kehidupanmu. ..

Pergi, lihat dan jangan pernah meninggalkannya.


Abu Nawas dan Kambing


Abu Nawas dan Kambing

Di negeri Persia hiduplah seorang lelaki yang bernama Abdul Hamid Al-Kharizmi, lelaki ini adalah seorang saudagar yang kaya raya di daerahnya, tetapi sayang usia perkawinannya yang sudah mencapai lima tahun tidak juga dikaruniai seorang anak. Pada suatu hari, setelah shalat Ashar di Mesjid ia bernazar, “ya Allah swt. jika engkau mengaruniai aku seorang anak maka akan kusembelih seekor kambing yang memiliki tanduk sebesar jengkal manusia”. Setelah ia pulang dari mesjid, istrinya yang bernama Nazariah berteriak dari jendela rumahnya:
Nazariah : “hai, hoi, cuit-cuit, suamiku tercinta, aku sayang kepadamu, ayo kemari, cepat aku ggak sabaran lagi, kepingen ni, cepat, aku kepengen ngomong”

Abdul heran dengan sikap istrinya seperti itu, dan langsung cepat-cepat dia masuk kerumah dengan penasaran sebesar gunung.

Abdul : h, h, h, h, h, h, nafasnya kecapaian berlari dari jalan menuju kerumahnya “ada apa istriku yang
cantik?”
Nazariah : “aku hamil kang mas”
Abdul : “kamu hamil?, cihui, hui, “
Sambil meloncat-loncat kegirangan di atas tempat tidur, Plok, dia terperosok ke dalam tempat tidurnya yang terbuat dari papan itu.
Tidak lama setelah kejadian itu istrinya melahirkan seorang anak laki-laki yang sangat cantik dan lucu. Dan diberi nama Sukawati

Pak lurah : “Anak anda kan laki-laki, kenapa diberi nama Sukawati?”
Abdul : “dikarenakan anak saya laki-lakilah makanya saya beri nama Sukawati, jika saya beri nama
Sukawan dia disangka homo.
Abdul : “Hai Malik (ajudannya) cepat kamu cari kambing yang mempunyai tanduk sebesar jengkal manusia”.
Malik : “tanduk sebesar jengkal manusia?” ia heran “mau cari dimana tuan?”
Abdul : “cari di dalam hidungmu dongol, ya cari diseluruh ke seluruh negeri ini”

Beberapa hari kemudian.
Malik : “Tuan Abdul, saya sudah cari kemana-mana tetapi saya tidak menemukan kambing yang punya
tanduk sejengkal manusia”
Abdul : “Bagaimana kalau kita membuat sayembara, cepat buat pengumuman ke seluruh negeri bahwa kita
membutuhkan seekor kambing yang memiliki tanduk sejengkal manusia untuk disembelih”
Menuruti perintah tuannya, Malik segera menempelkan pengumunan di seluruh negeri itu, dan orang-orang yang memiliki kambing yang bertandukpun datang kerumah Abdul, seperti pengawas Pemilu, Abdul memeriksa tanduk kambing yang dibawa tersebut.

Abdul : “hai tuan anda jangan menipu saya, kambing ini tidak memiliki tanduk sebesar jengkal manusia”
kemudian ia pergi ke kambing lain “jangan main-main tuan, ini tanduk kambing palsu”.


Setelah sekian lama menyeleksi tanduk kambing yang dibawa oleh kontestan sayembara, ternyata tidak satupun yang sesuai dengan nazarnya kepada Allah swt. Abdul hampir putus asa, tiba-tiba.

Abdul : “aha, saya teh ada ide, segera kamu ke ibu kota dan jumpai pak Abu dan katakan saya ingin
meminta tolong masalah saya.
Malik segera menuruti perintah tuannya, dan segera menuju ibu kota dan menjumpai Pak Abu yang punya nama lengkap Abu Nawas.

Malik : “Pak Abu, begini ceritanya, cus, cues, ces. Pak Abu bisa bantu tuan saya”
Pak Abu : “katakan pada tuan kamu, bawa kambing yang punya tanduk dan bayinya tersebut besok pagi ke mesjid Fathun Qarib.
Malik segera pulang dan memberitahukan kepada tuannya bahwa Pak Abu bisa membantu dan cus, cues, ces, sstsst,

Di esok pagi Abdul menjumpai Pak Abu dengan seekor kambing yang punya tanduk dan anaknya yang masih bayi tersebut, beserta istrinya.

Pak Abu : “Baiklah tuan Abdul, jika nazarmua kepada Allah swt. menyembelih kambing yang punya tanduk
sebesar jengkal manusia, sekarang tunjukkan mana kambing yang kau bawa kemari, dan mana anakmu”
Abdul : “ini kambing dan anak saya Pak Abu”

Pak Abu kemudian mengukur tanduk kembing tersebut dengan jengkal anak bayi tersebut dan Pak abu memperlihatkannya ke Abdul


Pak Abu : “sekarang kamu sudah bisa membayar nazarmu kepada Allah swt. karena sudah dapat kambing yang pas”
Abdul : “cihui, uhui, pak Abu memang hebat”, dia meloncat-loncat kegirangan di dalam mesjid setelah melakukan sujud syukur, dan tiba-tiba sleit, dia terpeleset jatuh, karena lantainya baru saja di pel oleh pengurus mesjid itu

Ibadah dalam Bekerja


( Esensi ) Ibadah dalam Bekerja


Dalam diri setiap pribadi muslim telah meyakini bahwasannya niat atau dorongan untuk menetapkan cita-cita, merupakan ciri bahwa dia itu ada dan dia itu hidup. Mereka menyadari betapa besarnya kasih sayang Allah kepada dirinya. Itulah sebabnya Allah menanamkan kepada diri kita untuk tetap memiliki niat yang baik sebagai salah satu latihan untuk menumbuhkan cara berfikir yang positif pada setiap diri pribadi seorang muslim. Tentang niat ini Rosulullah bersabda, “Allah Azza wa Jalla berfirman (kepada malaikat pencatat amal), ‘Bila hamba-Ku berniat melakukan perbuatan jelek, janganlah kalian catat dulu. Jika dia telah mengerjakannya, barulah kalian tulis sebagai satu kejelekan. Bila hamba-Ku berniat melakukan perbuatan baik, tapi tidak jadi melaksanakannya, catatlah sebagai suatu kebaikan. Jika dia mengamalkannya, catatlah kebaikan itu sepuluh kali lipat.” (HR Abu Hurairah)

Subhanallah, begitu sayangnya Allah kepada kita yang selalu mengabaikan perintah-Nya dan itulah bukti kebesaran Allah SWT. Disinilah nanti akan dilihat bagaimana kaitannya antara tugas manusia dan bekerja.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sekiranya di antara kamu membawa tali dan pergi ke bukit untuk mencari kayu. Kemudian dipikul ke pasar untuk dijual dan dengan itu dapat mencukupi sedikit dari kebutuhannya. Maka yang demikian itu lebih baik daripada meminta-minta pada orang-orang, baik mereka memberi atau menolaknya.” (HR Bukhari)

Dengan bekerja pada dasarnya kita telah melaksanakan tugas mulia sebagai manusia, yaitu beribadah kepada Allah yang Maha Kuasa. Karena bekerja pada hakekatnya adalah ibadah dan merupakan tugas kita dalam menjalani hidup ini. Bekerja lebih mulia daripada meminta-minta dan mengiba-iba. Bahkan Rosulullah pun sangat menyukai orang yang bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Pernah ada seseorang lelaki yang mengadu kepada Nabi Muhammad SAW karena kefakirannya. Mendengar keluhan orang itu. Rosulullah memberikan dua dirham kepadanya seraya berkata: “Apakah kamu memiliki sesuatu?” “Tidak, Wahai Rosulullah,” jawab lelaki itu. Kemudian Rosulullah memberinya dua dirham kepada lelaki tadi sambil bersabda lagi: “Terimalah uang ini. Belilah makanan yang dibutuhkan olehmu dengan sebagian uang ini dan sisanya belilah sebuah kapak. Carilah kayu bakar dan juallah, itu lebih baik bagimu daripada mengemis.” Setelah lima belas hari, lelaki itu datang menghadap Rosulullah dan berkata: “Wahai Rosulullah, Allah telah memberkahi pada apa yang telah Rosul perintahkan kepadaku, kini saya telah berhasil mengumpulkan uang sebanyak sepuluh dirham. Yang lima dirham saya gunakan untuk membeli makanan buat keluargaku, sedangkan yang lima dirham lagi saya gunakan untuk membeli pakaian anak istriku.” Mendengar perkataan lelaki itu, maka Rosulullah bersabda: “Ini lebih baik bagimu daripada meminta atau mengemis kepada orang lain.”

Bekerja itu memiliki esensi ibadah. Orang yang bekerja di jalan yang halal, Insya Allah akan mendapatkan pahala dan pengampunan dosa dari Tuhannya. Sang suami yang bekerja untuk menafkahi istri dan anaknya sangat mulia di hadapan Allah dan hambaNya. Kelelahan setelah bekerja seharian seakan hilang melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah istri dan anaknya. Dengan bekerja di jalan yang halal kita dapat merasakan kepuasan karena pahala dari Allah telah dalam genggaman. Sementara dosa-dosa kita luruh seiring letih seusai bekerja keras dengan tangan dan pikiran seharian.

Rosulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang di waktu sorenya merasakan kelelahan karena bekerja, berkarya dengan tangannya sendiri, maka di waktu sore itu pulalah ia terampuni dosanya.” (HR Thabrani dan Baihaqi)